Pola Penataan Permukiman Kumuh di Kelurahan Pahandut Seberang Kota Palangka Raya

Authors

  • Noor Hamidah Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Palangka Raya, Kota Palangkaraya, Indonesia
  • Tatau Wijaya Garib Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Palangka Raya, Kota Palangkaraya, Indonesia
  • Anna Rusdanisari Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
  • Mahdi Santoso Program Studi S2 Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya, Kota Palangkaraya, Indonesia
  • Noor Mahmudah Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
  • Dwi Anung Nindito Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Palangka Raya, Kota Palangkaraya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.29408/geodika.v10i1.30253

Keywords:

permukiman kumuh, tepian sungai, konsep co-housing

Abstract

Salah satu kawasan permukiman kumuh di Indonesia terletak di Kota Palangka Raya yang dicirikan oleh kepadatan hunian yang tinggi dan minimnya infrastruktur. Penelitian ini bertujuan menganalisis permukiman berdasarkan jaringan jalan dan infrastruktur dengan pendekatan co-housing di kawasan tepian sungai Kelurahan Pahandut Seberang. Lokasi penelitian terletak di Kelurahan Pahandut Seberang khususnya di Jalan Wisata dan Jalan Cemara Labat yang mempunyai bangunan sangat rapat dan tidak memenuhi standar teknis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pengumpulan data studi literatur, observasi lapangan dan wawancara. Kegiatan wawancara dilakukan terhadap informan pemilik rumah yang memiliki bentuk, fungsi rumah tinggal dan fungsi usaha, serta aktivitas di permukiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pola jaringan jalan lingkungan di Kelurahan Pahandut Seberang bersifat organik dan berkembang mengikuti pola permukiman. Penataan kawasan tepian sungai di Kelurahan Pahandut Seberang perlu mempertimbangkan karakteristik lokal dan kebutuhan masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai. Pendekatan co-housing diterapkan sebagai solusi desain kolaboratif yang tidak hanya memenuhi kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga mengurangi stres dan kesepian yang berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Konsep co-housing dalam bentuk bangunan vertikal dengan pendekatan arsitektur tepi air menjadi rekomendasi untuk diimplementasikan dalam penataan kawasan permukiman kumuh ini.

References

Anita, J. (2022). Perkembangan kebijakan publik dan program bidang perumahan dan permukiman di Indonesia. Jurnal Arsitektur TERRACOTTA, 3(1).

Baiquni, M. (2000). Social-Economics Integration of Dualistic Settlement Environment at Urban Areas in Indonesia (Case Study in Yogyakarta City). Forum Geografi, 14(01).

Baiquni, M. (2004). Urbanization and Urban Settlement Dualism: A case study and research of Yogyakarta, Indonesia. In Proceeding of International Workshop on Asian Approach Toward Sustainable Urban Regeneration.

Doxiadis, C. A. (1968). Ekistics; an Introduction to The Science of Human Settlements. London: Hutchinson

Garib, T. W., & Noorhamidah, N. (2017). Pola Sirkulasi Kawasan Tepi Sungai Kahayan Kota Palangka Raya. Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi, 1(1), 9-17.

Hamidah, N., Rijanta, R., Setiawan, B., & Aris Marfai, M. (2017). Kampung” as a formal and informal integration model (Case study: Kampung Pahandut, Central Kalimantan Province, Indonesia). Forum Geografi, 31(1), 43-55.

Hamidah, N., Rijanta, R., Setiawan, B., & Marfai, M. A. (2014). Kajian transportasi sungai untuk menghidupkan kawasan tepian Sungai Kahayan Kota Palangkaraya. Tataloka, 16(1), 1-17.

Nindito, D. A., Hamidah, N., Syahrozi, S., Santoso, M., Maulana, M. I., Rusdanisari, A., & Mahmudah, N. (2024). Bentuk dan Fungsi Spasial Rumah di Permukiman Tepian Sungai Kelurahan Pahandut Seberang Kota Palangka Raya. Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi, 8(2), 170-179.https://doi.org/10.29408/geodika.v8i2.27201

Prayojana, T. W., Mardhatil, M., Fazri, A. N., & Saputra, B. (2020). Dampak urbanisasi terhadap pemukiman kumuh (slum area). Jurnal Kependudukan Dan Pembangunan Lingkungan, 1(2), 60-69.

Riwut, T. (1979). Kalimantan Membangun (Kalimantan Developin). Jakarta: PT Jayakarta Agug Offset.

Rusdanisari, A., & Herwangi, Y. (2025). Bentuk Adaptasi Masyarakat Terhadap Bencana Banjir di Kawasan Permukiman Tepian Sungai Kelurahan Pahandut Seberang. Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi, 9(1), 108-117. https://doi.org/10.29408/geodika.v9i1.28215

Sastrosasmito, S. (2009). Compact Kampungs: Formal and Informal Integration in the Context of Urban Settlements of Yogyakarta, Indonesia. Journal of Habitat Engineering, 1(1), 119-134.

Satrio, M. I., & Sukmawati, A. M. A. (2021). Kebertahanan masyarakat pada permukiman kumuh berdasarkan aspek sosial ekonomi di Kelurahan Salatiga, Kota Salatiga. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman, 3(1), 36-48.

Sujarto, D. (1996). Perkembangan Wilayah dan Permasalahan Kota di Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.

UN-Habitat. (2003). The Challenge of Slums: Global Report on Human Settlements. UN-Habitat.

Williams, J. (2005). Designing Neighbourhoods for Social Interaction: The Case of Cohousing. Journal of Urban Design, 10(2), 195–227.

Yulianti, H., Ningsih, D. P., & Apriawan, A. (2025). Transformasi Sosial dalam Konteks Urbanisasi dan Modernisasi di Indonesia. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(5), 3488-3500.

Downloads

Published

2026-01-31