Kendang Sunda Di Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja Desa Kembaran Bantul Yogyakarta

Asep Saepudin, Ela Yulaeliah, Subuh Subuh

Abstract


Tujuan penulisan ini untuk menelusuri bagimana perkembangan dan peranan kendang Sunda di Pusat Latihan Tari dalam iringan karawitan tari Bagong Kussudiardja. Seringnya digunakannya kendang Sunda dalam iringan tari karya Bagong Kussuadiardja merupakan hal yang sangat menarik untuk dikaji keberadaannya mengingat di Yogyakarta sudah memiliki kendang Jawa yang secara tradisi masih berlaku pada waktu itu. Metode sejarah digunakan dalam penelitian ini meliputi pencarian data lapangan dan pustaka (heuristik), kritik, interpretasi, dan histografi. Hasil kesimpulan menunjukkan bahwa keberadaan kendang Sunda di Pusat Tari Bagong Kussudiardja dimulai dengan minat Bagong pada seni Tjetje Somantri, yang memberinya inspirasi untuk menciptakan langkah-langkah baru, terutama dalam gerakan, variasi tepak kendang, dan masalah waktu. Para seniman pertama kali berkenalan dengan kendang Sunda dimulai pada tahun 1962 ketika ada pertunjukan seni di tiga wilayah: Yogya, Sunda dan Solo dengan misi untuk membawa pertunjukan di luar Indonesia, seperti RRC, Thailand, Korea, dan Filipina. Pengembangan kendang Sunda terdiri dari dua elemen yaitu dalam instrumen dan pola-pola musik. Kendang Sunda sebagai instrumen di PLT berkembang menjadi dua jenis yaitu kendang Sunda asli dan kendang Sunda dengan pengaruh Jawa. Adapun pengembangan pola-pola kendang Sunda meliputi tahap penghargaan, imitasi, pembelajaran, pencarian identitas, dan tahap kreativitas. Kendang Sunda memiliki pengaruh besar pada iringan musik (karawitan) pada masing-masing karya tari Bagong Kussudiardja, meliputi: Tari Wira Pertiwi, Tari Mulat Wani, Tari Nyai Ronggeng, Tari Lenggotbawa, Tari Satria Tangguh, Tari Tenun, dll. Meskipun banyak iringan karawitan dipengaruhi oleh kendang Sunda, namun masih digunakan dalam kapasitasnya sendiri, di mana kendang Sunda digunakan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan karya yang dibuat. Kendang Sunda berfungsi sebagai instrumen yang dapat dimainkan secara bebas, tidak digunakan sebagai instrumen etnis tertentu.


Keywords


tepak, kendang, Sunda, Bagong

Full Text:

PDF

References


Bagong Kussudiardja. (1993). Bagong Kussudiardjo: Sebuah Autobiografi. Yogyakarta: Bentang Intervisi Utama Bekerja Sama dengan Padepokan Press, Yayasan Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo. Yogyakarta: Bentang Intervisi Utama Bekerja Sama dengan Padepokan Press, Yayasan Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo.

Dewi, M. S. (2013). Meningkatkan Hasil Belajar Menari Kreatif Melalui Pendekatan Pembelajaran Piaget dan Vygostsky. Panggung Jurnal Seni Dan Budaya, 23(1), 69–81.

Garaghan, S.J., G. J. (1995). A Guide To Historical Method (Sebuah Penuntun untuk Metode Sejarah) Terj. Abdul Azis, dkk. Yogyakarta: Universitas Gadjahmada.

Gottschalk, L. (1985). Mengerti Sejarah. Universitas tas Indonesia Press.

Herdiani, E. (2017). Dynamics of Jaipongan on West Java from 1980 to 2010. Asian Theatre Journal, 34(2), 455–473. https://doi.org/10.1353/atj.2017.0032

Kartodirdjo, S. (1993). Pendekatan Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Miller, H. M. (2017). Apresiasi Musik”. dalam Sunarto. Yogyakarta: Thafa Media.

Nahdlatuzzainiyah, Yuliatin, R. R., & Imtihan, Y. (2021). Koreografi Tari Kreasi Bala Anjani. Tamumatra: Jurnal Seni Pertunjukan, 4(1), 32–42. https://doi.org/10.29408/tmmt.v4i1.4337

Narawati, T. (2003). Wajah Tari Sunda dari Masa ke Masa. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Seni Tradisional, Universitas Pendidikan Indonesia.

Nur Ghaliyah, B. D. (2015). Paberik Bamboe untuk Nusantara: Sebuah Perjalanan Musik Bambu dalam Kemudaan. Awi Laras: Jurnal Karya Ilmiah Musik Bambu, 2(3), 141–155.

Raditiya, M. H. B. (2013). Hibriditas Musik Dangdut dalam Masyarakat Urban. Journal of Urban Society’s Arts, 13(1), 1–14.

Raharja, Kusmayati, H. (2019). Memahami Lelangen Beksan Banjaransari melaui Elemen Musikal Karawitan. Resital : Jurnal Seni Pertunjukan, 20(1), 24–35.

Rustandi, Y. (2021). Pengaruh Jaipongan Terhadap Seni Bangreng. Tamumatra: Jurnal Seni Pertunjukan, 4(1), 1–31. https://doi.org/10.29408/tmmt.v4i1.4335

Saepudin, A. (2012). Karawitan Jaipongan Sebagai Genre Baru dalam Karawitan Sunda Karawitan Jaipongan as a New Genre in Sundanese Kerawitan. 27, 3461.

Saepudin, A. (2013). Garap Tepak Kendang Jaipongan dalam Karawaitan Sunda. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta. http://library1.nida.ac.th/termpaper6/sd/2554/19755.pdf

Soepandi, A. (1995). Kamus Istilah Karawitan Sunda. Bandung: CV. Satu Nusa.

Somawijaya, A. (2014). Menciptakan Karya Baru dengan Merekayasa Sumber Medium dan Idiom Karya Lama. Awi Laras: Jurnal Ilmiah Seni Awilaras, 1(2), 63–85.

Sukistono, D. (2014). Pengaruh Karawitan terhadap Totalitas Ekspresi Dalang dalam Pertunjukan Wayang Golek Menak Yogyakarta. Resital : Jurnal Seni Pertunjukan, 15(2), 179–189.




DOI: https://doi.org/10.29408/tmmt.v4i2.5787

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International Licens

View My Stats