Identifikasi Bangunan-Bangunan Peninggalan Sejarah Masa Kolonial Belanda di Pesisir Timur Aceh

Authors

  • Madhan Anis Universitas Samudra
  • Ramazan Ramazan Universitas Samudra
  • Okhaifi Prasetyo Universitas Samudra
  • Reni Nuryanti Universitas Samudra
  • Intan Safitri Universitas Samudra
  • Wiwin Mauladi Universitas Samudra
  • Maya Puspita Universitas Samudra
  • Mutiara Rahayu Universitas Samudra

DOI:

https://doi.org/10.29408/fhs.v7i2.19747

Keywords:

colonial building, east coast of Aceh, identification

Abstract

The Dutch colonial presence in the eastern coastal region of Aceh had a significant influence on infrastructure development and cultural changes in the area. The buildings left over from the Dutch Colonial period on the East Coast of Aceh are physical evidence of the interaction between the Dutch and the people of Aceh at that time. Therefore, these relics must be protected and preserved. A lack of public understanding of the importance of preserving cultural heritage can result in neglect and lack of support for the preservation of these buildings. For this reason, the aim of this research is to identify buildings left over from the Dutch Colonial period in the cities on the East coast of Aceh, such as East Aceh, Langsa City, and Aceh Tamiang. The research used in this research is historical or historical research methods. The steps in historical research are heuristics, verification, interpretation, and historiography. As a result of the research that has been carried out, a number of locations of historical heritage building objects were found scattered at several points in East Aceh, Langsa City, and Aceh Tamiang. In East Aceh, the East Aceh Regent's Hall and the Water Storage Reservoir are historical heritage sites. Langsa City also has several historical heritage buildings, such as the Balee Juang Building, SD Negeri 1 Langsa, PDAM, Hall, Satpol PP and WH Building, and Langsa Post Office. Apart from that, in Aceh Tamiang, there is a Regent's pavilion building and a Dutch rubber plantation industrial building, which are important historical relics. These historical remains provide an overview of the cultural and historical heritage of the area.

Kehadiran Kolonial Belanda di wilayah pesisir Timur Aceh membawa pengaruh yang signifikan dalam pembangunan infrastruktur dan perubahan budaya di daerah tersebut. Bangunan-bangunan peninggalan masa Kolonial Belanda di Pesisir Timur Aceh menjadi bukti fisik dari interaksi antara Belanda dan masyarakat Aceh pada masa itu. Oleh karena itu, peninggalan tersebut harus dilindungi dan dilestarikan. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya melestarikan warisan budaya dapat mengakibatkan penelantaran dan kurangnya dukungan untuk pelestarian bangunan-bangunan tersebut. Untuk itu tujuan penelitian ini yakni mengindetifikasi bangunan-bangunan peninggalan masa Kolonial Belanda di Kota pesisir Timur Aceh seperti di Aceh Timur, Kota Langsa dan Aceh Tamiang. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah atau historis. Langkah-langkah penelitian sejarah yaitu, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan sejumlah lokasi objek bangunan peninggalan sejarah yang tersebar di beberapa titik di Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang. Di Aceh Timur, terdapat Pendopo Bupati Aceh Timur dan Waduk Penampung Air sebagai peninggalan bersejarah. Kota Langsa juga memiliki beberapa bangunan peninggalan sejarah seperti Gedung Balee Juang, SD Negeri 1 Langsa, PDAM, Pendopo, Gedung Satpol PP dan WH, dan Kantor Pos Langsa. Selain itu, di Aceh Tamiang terdapat gedung pendopo Bupati dan  bangunan industri perkebunan karet Belanda yang menjadi peninggalan sejarah yang penting. Peninggalan sejarah tersebut memberikan gambaran tentang warisan budaya dan sejarah daerah tersebut.

References

Anwar, A. (2020). Strategi Kolonial Belanda Dalam Menaklukkan Kerajaan Aceh Darussalam. Jurnal Adabiya, 19(1), 13–28. http://dx.doi.org/10.22373/adabiya.v19i1.7482.

Bakri. (2015, January 27). Bupati Aceh Tamiang Resmikan Pendapa. Serambinews.Com. https://aceh.tribunnews.com/2015/01/27/bupati-aceh-tamiang-resmikan-pendapa.

Dafrina, A., Muhammad, M., Andriani, D., & Fitri, R. (2022). Identifikasi Bangunan Kolonial pada Hunian di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe sebagai Aset Heritage. Jurnal Serambi Engineering, 7(2), 3163-3172. https://doi.org/10.32672/jse.v7i2.4209.

Daulay, M. G., & Abdullah, T. (2017). Pemukiman Militer Peninggalan Belanda Di Banda Aceh (Kajian Komparasi Perkembangan Pemukiman Militer di Neusu Jaya dan Kuta Alam, 1900-2015). JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 2(2), 119-130. https://jim.usk.ac.id/sejarah/article/view/3774.

Fauzia, V. A., Kurniawan, E. B., & Wijaya, I. N. S. (2021). Tingkat Perubahan Bangunan Hindia Belanda di Kawasan Cagar Budaya Kotabaru, Kota Yogyakarta. Jurnal Tata Kota Dan Daerah, 13(2), 87–98. https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2021.013.02.5.

Hamdani, R., Firmansyah, A.-F., Aulia, F., Syahputra, R., Zahwa, U., & Agustina, H. (2014). Industri Getah di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 1926-1976. Seuneubok Lada: Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan, 1(1), 72–77. http://jurnal.unsam.ac.id/index.php/jsnbl/article/view/517.

Hamzah, F., Hermawan, H., Srinatami, D., (2021). Analisis Strategi Pengembangan Situs Cagar Budaya Gunung Padang Sebagai Destinasi Wisata dan Peninggalan Sejarah Kebudayaan. Media Wisata, 19(1), 57-67. https://doi.org/10.36276/mws.v19i1.66.

Humaidy, E. A., Dewi, C., & Muftiadi, M. (2022). Strategi Revitalisasi Gedung Juang Dengan Konsep Adaptive Reuse Menjadi Museum. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur Dan Perencanaan, 6(1), 41–47. http://jim.usk.ac.id/ArsitekturPWK/article/view/16441.

Ibrahim, H. (2018). Cagar Budaya di Aceh dan Tanggung Jawab Pemeliharaannya. Riwayat: Educational Journal of History and Humanities, 1(2). https://jurnal.usk.ac.id/riwayat/article/view/20827.

Ibrahim, U., & Ibrahim, H. (2020). Awal perintisan kereta api di Aceh: Analisis Historis dan Politik Tahun 1876-1896. Seminar Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan, 1(1), 95–102. https://semnasfkipunsam.id/index.php/semnas2019/article/view/20.

Kurniawan, E. W. (2017). Identifikasi Bangunan Cagar Budaya di Kabupaten Wonosobo. In Prosiding Seminar Nasional Arsitektur Populis (p. B1-B33). http://repository.unika.ac.id/15668/.

Meiranda, A., Rianto, T., & Yasmin, N. (2020). Pengaruh industri pariwisata terhadap peninggalan bangunan kolonial di Kota Langsa. In Seminar Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan (Vol. 1, No. 1, pp. 546-548). https://semnasfkipunsam.id/index.php/semnas2019/article/view/158.

Muhajir, A. (2018). Langkah Politik Belanda di Aceh Timur: Memahami Sisi Lain Sejarah Perang Aceh, 1873-1912. MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-Ilmu Sosial, 1(2), 160–171. https://doi.org/10.30743/mkd.v1i2.515.

Muhajir, A., Yuliati, D., & Rochwulaningsih, Y. (2017). Industrialisasi dan Eksistensi Kota Langsa pada Era Kolonial, 1907-1942. Paramita: Historical Studies Journal, 27(1), 63–76. https://doi.org/10.15294/paramita.v27i1.7320.

Muliana, M., Safyan, A., & Saputra, E. (2022). Identifikasi Fasad Museum Kota Langsa Sebagai Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda. Rumoh: Journal of Architecture, 12(2), 53–60. https://doi.org/10.37598/rumoh.v12i2.209.

Prasetyo, O., & Kumalasari, D. (2021). Nilai-Nilai Tradisi Peusijuek Sebagai Pembelajaran Sejarah Berbasis Kearifan Lokal: Indonesia. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(3), 359–365. https://doi.org/10.31091/mudra.v36i3.1387.

Purnomo, H., Waani, J. O., & Wuisang, C. E. V. (2017). Gaya & Karakter Visual Arsitektur Kolonial Belanda Di Kawasan Benteng Oranje Ternate. Media Matrasain, 14(1), 23–33. https://doi.org/10.35792/matrasain.v14i1.15443.

Purnomo, S., Ratnawati, D., Arifin, N., & Setuju, S. (2022, December). Pengembangan daya tarik obyek wisata Gunungjambu berbasis karifan lokal Gunungkidul. In Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Vol. 1, No. 1, pp. 408-414). https://seminar.ustjogja.ac.id/index.php/semnas_LP2M_UST/article/view/642.

Rahman, A., & Riyani, M. (2020). Cagar Budaya dan Memori Kolektif: Membangun Kesadaran Sejarah Masyarakat Lokal Berbasis Peninggalan Cagar Budaya di Aceh Bagian Timur. Mozaik Humaniora, 20(1), 12–25. https://doi.org/10.20473/mozaik.v20i1.15346.

Richard, B., & Roosandriantini, J. (2023). Identification Of Colonial Architectural Style In Majapahit Hotel Building And Surabaya Youth Center Identifikasi Langgam Arsitektur Kolonial Pada Bangunan Hotel Majapahit dan Balai Pemuda Surabaya. Arsitektur Universitas Pandanaran Jurnal (ARSIP), 3(1), 1–10. https://doi.org/10.54325/arsip.v3i1.38.

Sagita, E. S., Nurlaili, N., & Nurkamari, N. (2022). Analisis Pelestarian Cagar Budaya Studi Kasus Cagar Budaya Taman Sari Gunongan. Jurnal Sains Riset, 12(2), 351–354. https://doi.org/10.47647/jsr.v12i2.697.

Saleh Muhammad. (2019, September 15). Waduk Belanda di Peureulak, Potensi Wisata Masa Depan. MODUSACEH.CO. https://modusaceh.co/news/waduk-belanda-di-peureulak-potensi-wisata-masa-depan/index.html.

Sari, I. Y., Karsono, B., & Nurhaiza, N. (2019). Pelestarian Pendopo Aceh Timur Ditinjau Dari Sejarah Bangunan. Jaur (Journal Of Architecture And Urbanism Research), 3(1), 69–76. https://doi.org/10.31289/jaur.v3i1.2938.

Setyawati, D. (2023). Perkembangan Perkebunan di Aceh Abad Ke XIII–XIX. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah, 5(1), 25-30. https://doi.org/10.31540/sindang.v5i1.1838.

Simanjuntak, R. S. M. (2023). Pelestarian Cagar Budaya Arsitektur Konservasi Klenteng Darma Rakita Jamblang. Innovative: Journal of Social Science Research, 3(5), 5898–5911. https://doi.org/10.31004/innovative.v3i5.5311.

Siregar, R. K. I. (2017). Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Kota Langsa. Skripsi. Aceh: Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/3880/.

Sumalyo Yulianto. (1993). Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Gadjah Mada University Pers.

Tamimi, N., Fatimah, I. S., & Hadi, A. A. (2020). Tipologi Arsitektur Kolonial di Indonesia. Vitruvian: Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan, 10(8), 45-52. http://dx.doi.org/10.22441/vitruvian.2020.v10i1.006.

Usman, U., Akob, B., & Sahudra, T. M. (n.d.). Aceh East Coast Community Economic Development (Historical Study And Existence Of Kuala Langsa Port And Its Contribution To The Government Of 1900-2018). Jupiis: Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, 15(1), 111–120. https://doi.org/10.24114/jupiis.v15i1.42676.

Wasino, & Hartatik Sri Endah. (2018). Metode Penelitian Sejarah: dari riset hingga penulisan (Cetakan 1). Magnum Pustaka Utama.

Yulia, R., Erawati, M., Asnan, G., & Nopriyasman, N. (2022). Revitalisasi Kawasan Kota Tua Padang sebagai Salah Satu Alternatif Wisata Sejarah di Kota Padang. Bakaba: Jurnal Sejarah, Kebudayaan dan Kependidikan, 6(2), 17–22. https://doi.org/10.22202/bakaba.2017.v6i2.

Zakir, M. (2018). Perubahan Pemerintahan Mukim di Langsa pada Era Kolonial, 1907-1942. JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam), 2(2), 269–277. http://dx.doi.org/10.30829/j.v2i2.3039.

Downloads

Additional Files

Published

2023-12-30

How to Cite

Anis, M., Ramazan, R., Prasetyo, O., Nuryanti, R., Safitri, I., Mauladi, W., … Rahayu, M. (2023). Identifikasi Bangunan-Bangunan Peninggalan Sejarah Masa Kolonial Belanda di Pesisir Timur Aceh. Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah Dan Pendidikan, 7(2), 224–244. https://doi.org/10.29408/fhs.v7i2.19747