Analisis Historis Makam Etnis China di Desa Peneda Gandor Lombok Timur: Jejak Akulturasi Budaya dan Tantangan Pelestarian

Authors

  • Saparwadi Saparwadi Universitas Hamzanwadi
  • Abdul Rasyad Universitas Hamzanwadi
  • Bambang Eka Saputra Universitas Hamzanwadi

DOI:

https://doi.org/10.29408/fhs.v8i3.36535

Keywords:

Chinese ethnic graves, cultural acculturation, cultural heritage preservation, local history, Peneda Gandor

Abstract

This research aims to analyze the Chinese ethnic graves in Peneda Gandor Village, East Lombok, focusing on archaeological, historical, and sociocultural aspects. The existence of these graves reflects the historical traces of the Chinese community that once settled and engaged in economic activities in the region from the Dutch colonial era until the G30S/PKI incident in 1965. The method used in this research is the historical method with a qualitative approach through four stages: heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results show that these graves possess distinctive architectural and symbolic characteristics, such as dragon ornaments, Hanzi inscriptions, and tomb forms that reflect the social status of their occupants. This analysis also reveals cultural acculturation between Chinese traditions and local Lombok culture, as well as illustrating the role of the Chinese community in the region's economic and social history. The research found that these graves have suffered damage due to natural factors and lack of maintenance following the G30S/PKI incident due to heightened anti-Chinese sentiment. This research is expected to enhance understanding of Chinese cultural heritage in East Lombok and encourage more effective preservation efforts in the future.

References

Abdullah, M. I., Prihatiningsih, P., & Laura, L. (2017). Konstruksi makna ritual pemakaman budaya Tionghoa di Heaven Memorial Park Bogor. Jurnal Komunikasi, 2(2), 1–15. https://doi.org/10.20527/mc.v2i2.4083

Abdurahman, D. (2019). Metode penelitian sejarah Islam. Ombak.

Afandi, A. (2017). Kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Desa Labuhan Haji dalam hubungannya dengan etnis Cina pasca G30 September 1965–1966. Historis: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah, 2(2), 25–31. https://doi.org/10.31764/historis.v2i2.190

Alputila, C. (2014). Makam tradisional etnis Cina di Kota Ambon. Kapata Arkeologi, 10(2), 55–66. https://doi.org/10.24832/kapata.v10i2.222

Chang, K. C. (1983). Art, myth and ritual: The path to political authority in ancient China. Harvard University Press.

Dahana, A. (2000). Etnis Cina dalam lintasan sejarah Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional.

Haryono, P. (2006). Menggali latar belakang stereotip dan persoalan etnis Cina di Jawa. Mutiara Wacana.

Koentjaraningrat. (2007). Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Djambatan.

Laela, N. (2014). Perjuangan masyarakat Parakan Temanggung dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (1945–1946) [Skripsi, UIN Sunan Kalijaga].

Lombard, D. (1996). Nusa Jawa: Silang budaya. Gramedia Pustaka Utama.

Masruroh, Y. (2014). Pemaknaan dan pergeseran makna bong pay pada warga keturunan Tionghoa di Kelurahan Sudioprajan-Surakarta [Disertasi doktoral, Universitas Sebelas Maret].

Mawardi, M. (2010). Tradisi upacara kematian umat Konghucu dalam perspektif psikologis. Analisa: Journal of Social Science and Religion, 17(2), 201–214. https://doi.org/10.18784/analisa.v17i2.38

Moleong, L. J. (2014). Metodologi penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

Muzakkir, M. (2019). Konsep akulturasi budaya masyarakat Tionghoa ditinjau dari komunikasi antar budaya (Studi kasus etnis Tionghoa di wilayah barat selatan Aceh). KAREBA: Jurnal Ilmu Komunikasi, 8(2), 258–274. https://journal.unhas.ac.id/index.php/kareba/article/view/8872

Ong, H. T. (1996). Simbolisme hewan Cina. Kesaint Blanc.

Panji, L. A. K., Cahyowati, R. R., & Rusnan, R. (2023). Peran Badan Permusyawaratan Desa dalam pengawasan pemerintahan di Desa Wisata di Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Diskresi, 2(2), 137–148. https://doi.org/10.29303/diskresi.v2i2.3671

Pemerintah Desa Peneda Gandor. (2024). Profil Desa Peneda Gandor tahun 2024 [Dokumen profil desa].

Purcell, V. (1997). The Chinese in Southeast Asia. Djambatan.

Reid, A. (2011). Asia Tenggara dalam kurun niaga 1450–1680. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Salam, A. (2005). Pemberontakan Gandor 1895: Sebuah perlawanan sufi terhadap kekuasaan. Ulumuna, 9(1), 172–188. https://ulumuna.or.id/index.php/ujis/issue/view/10

Samsu, S. (2017). Metode penelitian: Teori dan aplikasi penelitian kualitatif, kuantitatif, mixed methods, serta research & development. Pusaka.

Setiono, B. (2008). Tionghoa dalam pusaran politik. TransMedia Pustaka.

Setyono, H. (2002). Feng Shui: Kiat dan rahasia. Gramedia.

Sope, A. (2021). Konsep Feng Shui pada makam Cina di Situs Pulau Pandan Kendari. Siddhayatra: Jurnal Arkeologi, 26(2), 27–40. https://doi.org/10.24832/siddhayatra.v26i2.228

Sugiyono, S. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Sulasman, S. (2014). Metodologi penelitian sejarah. Pustaka Setia.

Suliyati, T. (2009). Tradisi pemakaman etnis Cina di Semarang. Jurnal Sejarah, 3(2), 75–90.

Tan, M. G. (2008). Golongan etnis Tionghoa di Indonesia. Yayasan Obor Indonesia.

Taniputra, E. (2007). Makam tradisional Cina di Indonesia. Pustaka Sinar Harapan.

Utama, W. S. (2012). Kehidupan sosial budaya masyarakat Tionghoa di Batavia 1900an–1930an. Lembaran Sejarah, 9(1), 19–38. https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.23765

Downloads

Published

2024-12-30

How to Cite

Saparwadi, S., Rasyad, A., & Saputra, B. E. (2024). Analisis Historis Makam Etnis China di Desa Peneda Gandor Lombok Timur: Jejak Akulturasi Budaya dan Tantangan Pelestarian. Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah Dan Pendidikan, 8(3), 552–562. https://doi.org/10.29408/fhs.v8i3.36535

Issue

Section

Artikel